Arsip untuk Maret, 2006

h1

menilai orang lain

Maret 31, 2006

Saya berpikir, kenapa kita suka menilai orang lain ? membuat stereotype, berprasangka, prejudice, berasumsi, mempersepsi perilaku orang lain..

Jalaludin Rakhmat bilang, kita ini makhluk yang butuh kepastian. Kepastian membuat kita tenang dalam menghadapi hidup. Kita butuh memperkirakan masa depan, dan gelisah terhadap ketidakpastian. Karenanya, manusia cenderung cepat mengambil kesimpulan, seberapapun sedikitnya informasi yang dimiliki.

Kita juga belajar dari pengalaman. Kita melakukan deduksi terhadap satu atau lebih peristiwa, melihat pola-pola kesamaan, dan dengannya memperkirakan apa yang akan terjadi kemudian.

Sayangnya, dunia manusia tidak bisa direduksi menjadi hubungan sebab-akibat. Yang ada adalah pola hubungan nonlinear, Capra bilang. Tiap hubungan menimbulkan satu bentuk baru yang muncul secara sontak…whatever.

Intinya, banyak sekali informasi yang harus kita cari, pola-pola hubungan yang terkesan acak yang perlu kita dalami lagi, sebelum kita berangkat pada kesimpulan – especially when it concerns our perception to others. Susah kan ?

Ada lagi cara yang lebih gampang. Let it be. Tidak perlu menilai, tidak perlu meramalkan, cukup percaya dan menerima..

Saya cukup percaya kalau semua orang adalah individu yang berbeda, unik, –and yet, sama. Saya tidak perlu menyimpulkan bahwa dia tidak bisa dipercaya hanya karena dia satu-dua kali mengingkari janji. Dan saya tidak bisa membencinya hanya karena dia telah dilabeli ’pembohong’, misalnya. Setiap manusia sama, belajar, dan melakukan kesalahan. Tapi, seperti kata Oprah Winfrey, kamu bukan ’kesalahan kamu’.

Buat saya, sedikit menenangkan saat dapat melihat orang lain tanpa pretensi apapun. Susah memang, tapi menenangkan..:)

h1

Mengapa manusia harus bekerja ?

Maret 28, 2006

Dahulu, manusia primitif masih berburu dan meramu untuk kelangsungan hidupnya. Seiring dengan evolusi peradaban, manusia mulai mengenal bercocok tanam dan tinggal menetap. Tumbuhan mulai dibudidayakan, hewan mulai dijinakkan dan dipelihara. Dimulai dari lembah sungai yang subur, manusia mulai mengembangkan kebudayaannya.

Langkah selanjutnya dari perkembangan manusia itu adalah spesialisasi. Semula, setiap individu mungkin masih menanam tanaman bagi kebutuhan hidupnya saja. Akan tetapi, bisa jadi manusia mulai berpikir untuk bertani satu komoditas saja, sedangkan orang lain mengembangkan komoditas lainnya. Wajar saja, karena tidak semua komoditas dapat dikembangkan di setiap tempat. Akhirnya, orang-orang pun mulai terspesialisasi sebagai petani, pembuat pakaian, pandai besi, peternak, dan lain sebagainya. Setiap orang memenuhi kebutuhan satu populasi masyarakat itu – yang masih dalam jumlah yang sedikit. Selanjutnya, konon, orang-orang yang menguasai lokasi strategis di daerah tersebut, seperti air, terspesialisasi menjadi raja. Versi lain, kebutuhan akan keteraturan dan kepercayaan yang menjadikan masyarakat satu daerah kemudian memilih seorang pemimpin. Yang jelas, bekerja pada definisi awalnya adalah proses saling memenuhi kebutuhan, saling memberi untuk kebaikan – tidak hanya diri sendiri — , tetapi juga satu kelompok masyarakat itu.

Roda, membawa manusia ke tingkat peradaban selanjutnya, yang memungkinkan manusia membawa hasil kerjanya dari satu tempat ke tempat lain yang jauh. Dari sini, dilakukan apa yang dikenal dengan barter. Setiap orang menukarkan hasil kerjanya dengan hasil kerja orang lain, agar kebutuhannya terpenuhi. Akan tetapi, kemudian masyarakat menemukan masalah dari barter, yaitu sulitnya memberikan nilai yang setara antara satu barang dengan barang yang lain. Apakah satu karung beras akan setara dengan satu karung kerajinan logam, dsb.

Karena itulah, kemudian muncul satu produk peradaban yang nantinya memberikan sumbangsih yang besar bagi maju – dan kehancuran – peradaban manusia : Uang. Dengan segala persyaratan, seperti tidak mudah rusak, mudah dibawa, tidak tersedia dalam jumlah banyak, tidak mengalami penurunan nilai, dsb, emas dan perak diajukan sebagai bentuk uang yang pertama. Ukuran dari logam tersebut -serta jumlahnya – menentukan nilai dari uang, dan pada akhirnya memberikan satu nilai kekayaan bagi seseorang.
Harus diakui, uang memberikan banyak kemudahan bagi manusia. Ia memberikan ketenangan kepada setiap orang yang memilikinya, ketenangan akan pemenuhan kebutuhan hidupnya di masa yang akan datang. Uang juga memberikan nilai yang pasti dari barang-barang kebutuhan hidup. Hasil kerja seseorang dapat dengan mudah ditukarkan dengan hasil kerja orang lain dengan ukuran yang pas.

Akan tetapi, terdapat satu kekhawatiran lain dari kehadiran uang, karena dengan uang, hasil kerja setiap orang akan dengan mudah dikuantifikasi. Lalu, berapakah nilai dari kerajinan logam buatan pandai besi misalnya ? Apakah seharga dengan bahan dasarnya dan tenaga yang dikeluarkan untuk pembuatan kerajinan itu ? Ataukah senilai dengan seberapa banyak orang yang membutuhkan atau meminta hasil karyanya ? Ukuran hasil karya itu akan menjadi satu dimensi saja, dimensi kebergunaannya.
Kekhawatiran lain dari uang adalah orientasi. Uang tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan, tetapi uang telah menjadi kebutuhan itu sendiri. Semua orang kemudian bekerja untuk uang. Ya, meski secara tidak sadar, proses saling memenuhi kebutuhan masih berjalan, tetapi tanpa kesadaran atas bekerja itu sendiri, esensi bekerja akan hilang, berikut segala nilai luhur dari bekerja yang pernah ada.
Saya dapat menunjukkan beberapa esensi yang hilang itu. Kini, orang-orang mulai mencari peluang dengan menghasilkan barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan, tapi seolah iya. Iklan dan promosi menawarkan kepada kita hal-hal yang ada di luar kebutuhan kita. Selain itu, memproduksi barang-barang berkualitas rendah, melakukan kecurangan dalam berdagang, juga menjadi indikasi mulai hilangnya esensi kerja itu.Bahayanya adalah ketika setiap orang merasa membutuhkan uang tanpa tahu mengapa.

Ya, uang akhirnya telah menjadi tujuan. Uang menjadi ukuran kekayaan seseorang. Sebagai contoh, petani dengan penghasilan rendah dikatakan petani miskin. Padahal, saya ingat kakek-nenek saya, –dan umumnya penduduk desa dahulu –, tidak memiliki uang sama sekali sehari-harinya, tapi tetap dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Apakah mereka miskin ?
Memang saya akui, spesialisasi itu telah menjadi sedemikian hebatnya, hingga satu masyarakat mengganti diversifikasi tani di lahannya untuk mengejar hasil yang maksimal untuk satu komoditas saja -sebut padi. Kebutuhan akan barang dari tempat lain menjadi begitu tinggi, sehingga uang akan selalu dibutuhkan bagi masyarakat tersebut. Sangat disayangkan, karena mungkin masyarakat tersebut masih dapat berusaha untuk mandiri dengan memberdayakan lahannya untuk komoditas lain.
Yang juga tak kalah bermasalahnya adalah masyarakat kota. Kota semula adalah daerah perdagangan. Di kota berkumpul semua barang-barang kebutuhan masyarakat, yang didatangkan dari tempat-tempat produksi di luar daerah tersebut. Masyarakat kota jarang dapat menghasilkan kebutuhannya sendiri. Mereka, karena itu, sangat membutuhkan uang untuk membeli kebutuhan hidupnya. Bentuk usaha yang dapat dilakukan oleh masyarakat kota sebatas berdagang, pelayanan masyarakat (jasa), atau mengolah kembali produk-produk dari luar agar dapat memberi nilai lebih bagi produk tersebut.

Tapi, walau bagaimanapun, manusia sekarang memang membutuhkan uang. Yang harus diingat adalah, bahwa uang hanyalah alat, untuk memenuhi ‘kebutuhan yang sebenarnya’. Dan karena ia hanyalah alat dan bukan tujuan, maka kita akan menemukan banyak pemenuh kebutuhan lain yang bisa kita dapatkan tanpa menggunakan uang. Sebut saja, kasih sayang, pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Tapi, bukankah pendidikan dan kesehatan pun membutuhkan uang ? Bukan, yang memerlukan uang adalah penunjang pendidikan dan kesehatan. Adapun esensi dari pendidikan dan kesehatan itu sendiri sangat tak terukur dengan uang.

Dengan dasar itu, maka bekerja bagi saya adalah berkarya. Saya menyadari bahwa saya kini adalah bagian dari satu masyarakat besar. Interaksi saya tidak sebatas pada lingkungan saya, tetapi juga dengan masyarakat lain di Jawa Barat, Indonesia, bahkan dunia. Karena itu – dengan tetap bertindak lokal –, yang harus saya lakukan adalah berpikir untuk memberi bagi sesama. Terkesan terlalu idealis mungkin, tetapi saya yakin bahwa rezeki sudah diatur oleh-Nya. Yang harus saya lakukan tinggal memberikan apa yang saya bisa sesuai dengan peran saya bagi masyarakat. Saya biolog, maka saya memberikan solusi-solusi bagi permasalahan masyarakat yang berhubungan dengan biologi. Saya orang yang memiliki pengetahuan, maka menjadi tugas saya untuk menyampaikan apa yang saya ketahui bagi orang lain. Yang terpenting adalah menemukan potensi diri ini, lalu berkarya. Bagi saya, itulah bekerja. Bagaimana orang lain mengapresiasi – atau juga mengkuantifikasi kerja kita, bukan lagi urusan kita, selain sebagai bahan evaluasi bagi kesuksesan kerja kita. Dan pada akhirnya, hanya Dia-lah Yang Maha Menentukan.

h1

Me and My Sidekick

Maret 16, 2006

Bukannya iri, tapi cuma terenyuh.

Teman-teman saya punya sidekick — sepeda motor, sepeda, atau mobil, yang diberi nama. Piki dengan si jamrong, Tino dengan Mary Jane, Resty dengan si Jengky (mobil kijangnya)…ksatria baja hitam dengan belalang tempur. Lalu saya?

Sepeda hitam saya, merek Federal, itu hadiah ulang tahun saya waktu saya kelas 4 SD. Sejak itu, kita bersama-sama terus. Dari muter-muter komplek, dipalakin sama anak kampung sebelah, sampai cerita kehujanan gara-gara rodanya rusak. Sepeda ini udah 2 kali saya tinggalin…SMA, sama kuliah. Sempet dibawa ke Bandung, tapi gara-gara rusak,akhirnya saya telantarin.

Makasih buat bengkel sepeda di Sekeloa, keren banget. Sepeda saya jadi kaya yang baru (dan saya kerasa muda lagi….ngga banget ya?)

Akhirnya sepeda ini juga (yang meski kotor dan karatan), yang nolong saya waktu saya harus ngelesin privat ke Antapani nyungslep, yang kalo ditempuh pake angkot bakal keluar biaya 18 ribu pulang pergi,…yang sama aja plus-plos..

Yah, it’s my sidekick alright..dan seperti pendamping dari orang-orang hebat yang saya kenal. sepeda ini juga perlu nama..untuk mengintimkan hubungan.

Karena itu. Karena kekuatan dan keanggunannya di balik tampangnya yang kotor, penuh karat, dan hitam yang memudar….saya beri ia nama :

Si Mbladus.

Meet my new sidekick.keren kan? :P

h1

Tai Chi

Maret 16, 2006

Saya baru-baru ini belajar Tai Chi. Itu loh,yang diperagain sama Jet Li di Tai Chi Master…tapi ngga sedahsyat itu.

Yang saya pelajarin emang murni untuk kesegaran. Dan ternyata bener,kerasa setelah 10 menit latihan,keringat mulai ngucur.

Saya dikenalin ke olahraga ini sama bapak. Katanya sih, ini olahraga buat orang tua, karena ngga terlalu keras. Malahan kalo boleh saya bilang, ngga keras sama sekali. Gerakannya halus, minim tenaga, ngga ada hentakan.

Ada 18 gerakan,masing2 cukup dilakukan 6 kali. Gerakannya pelan,ngikutin irama nafas. Semakin pelan,semakin bagus.Dia ngga cuman ngasih kesegaran fisik,tapi juga ketenangan batin.

Tapi, menurut saya, olahraga ini cocok banget buat orang-orang yang…….males :P Buktinya, olahraganya bagus buat saya.

Well, at least for a week. Itu karena, saya supermalessss..

h1

Tentang Tuhan…

Maret 16, 2006

Ada banyak pilihan dalam hidup ini – untuk melakukan sesuatu atau tidak, untuk mempercayai sesuatu atau tidak. Terkadang, nalar memberi banyak pertimbangan dan alasan untuk itu. Tapi saya menemukan bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dibuktikan oleh nalar, hal-hal yang ada di luar logika kita. Toh, seperti kata Calne, sebagaimanapun nalar memberikan pertimbangan pada kita, pilihan menjadi suatu hal yang berada di luar batasnya.

Karena itu, saya memilih untuk percaya pada Tuhan.

Tapi, kenapa saya harus memilih untuk percaya ? atau, lebih mendasar lagi, kenapa saya harus memilih ?

Entah, tapi bagi saya, setiap orang butuh pegangan dalam hidup. Kita terlahir tanpa makna dan identitas. Seiring berjalannya waktu, lingkungan membentuk diri kita – atau tepatnya kita membentuk identitas dari lingkungan kita. Sampai akhirnya, kita akan bertanya, apa yang saya lakukan di sini ? Kemana saya akan melangkah ? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui manusia sejak dulu, sejak manusia dapat merefleksikan dirinya dan dunia ini. Ia akan menemukan satu saat dimana dirinya begitu terasing dari dunianya. Saat itulah berbagai jawaban akan muncul. – Saat itulah, menurut saya, makna akan tersingkap.

Entah, manusia menemukan makna hidup, atau memaknai hidup yang tanpa makna ini. Perbedaan itu begitu tipis, tapi tetap itulah yang ia butuhkan : Makna.

Karena itulah. Saya percaya akan adanya satu Kekuatan Besar yang mengatur kita semua. Bahwa tidak ada kebetulan dalam hidup ini. Saya menjadi lega dengan meyakini bahwa semua ada dalam keteraturan. Saya yakin, bahwa saya, kita semua, hidup di dunia ini untuk tujuan tertentu. Dan sekalipun terkadang kita terombang-ambing tanpa arah dalam hidup, ada satu jalan tak kasat mata yang menuntun kita hingga sekarang ini, dan menjadi alasan atas sesuatu yang perlu diperjuangkan. Meyakini ada Sang Maha Pengasih yang membimbing dan menyayangi diri ini di saat dunia seolah tidak berpihak pada saya, selalu memberi ketenangan bagi saya. Dan karenanya, saya bisa meluangkan satu waktu sakral untuk melepaskan diri dari pahitnya (dan terkadang pula manisnya) dunia, untuk berserah diri kepada-Nya.

Sains dan dunia modern sekarang, mengklaim bahwa Tuhan tidak ada. Tetapi yang sesungguhnya terjadi adalah, mereka tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Saintis seharusnya tidak menjadi atheis, tetapi menjadi agnostik. Ia (dalam kapasitas sebagai saintis) tidak tahu dan tidak memiliki cara untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Bahkan paradigma evolusi pun tidak menjelaskan bahwa Tuhan itu tidak ada. Dunia fisik tidak bisa memasuki ranah dunia metafisik. Manusia, sebagai produk terunggul evolusi, toh memiliki sesuatu yang tidak bisa dimaterikan sebagaimanapun itu – kesadarannya.

Lalu bagaimanakah sikap saya ? Seperti kata Kiekegaard, bukan masalah menemukan kebenaran, tetapi berpegang pada kebenaran yang kita yakini, itu yang penting. Karena apapun itu, tidak ada tuntutan untuk mempertanggungjawabkan apa yang kita miliki kepada siapapun, kecuali kepada diri kita sendiri.

Dan Tuhan menunjukkan jalan ini bagi saya, memberikan bertubi-tubi ujian hidup, menyelipkan keraguan atas apa yang – seharusnya – saya yakini, memberikan peran dalam hidup…agar akhirnya saya selalu kembali kepada-Nya, tunduk patuh dan berjalan dengan ikhlas, menyadari bahwa semua telah dituliskan, dan yang bisa kita lakukan hanya menjalani. And then again, it’s all because of His will afterall.

“…tetapi masalah berpegang pada kebenaran yang kita yakini…”

Ada konsekuensi dalam setiap pilihan, karena ia berimplikasi pada tanggung jawab. Dan ketika saya percaya kepada-Nya, maka saya tahu bahwa semua yang saya lakukan akan saya pertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak…dan saya belum bisa membawa apa-apa yang berarti bagi saya di hadapan-Nya. Astaghfirullah.

h1

Ini blog baru angga

Maret 16, 2006

Ini blog baru saya. Dengan beberapa pertimbangan, saya memutuskan untuk pindah ke WordPress. Yang terutama, karena tulisan-tulisan saya bisa dikategorikan.

Di blog ini saya bawa sedikit perubahan dalam tulisan saya(saya rasa begitu), bukan pendewasaan, tapi keberanian untuk menyampaikan lebih banyak dan lebih dalam apa yang ada dalam pikiran saya. Coba lihat sulcus-gyrus-numbus. (Catatan: sulcus-gyrus adalah bagian lipatan otak pada cerebrum, numb(us) artinya beku .. :D )

Saya masih membuat tulisan-tulisan ngga’ penting, di kategori ngga serius…lumayan, sebagai ice-breaker. Ada juga pelajaran hidup, hal-hal yang berkesan dalam hidup, puisi-puisi (cinta..hueekss),dsb.

Anyway, salute buat Pak Obot yang udah ngasih saya keberanian untuk menulis – dan menerima kritik dari pembaca dan blogger lain…membangun, harapannya.

Beberapa tulisan keluar langsung dalam satu waktu, bukan karena otak saya sebegitu ingin memuntahkan semua. Tapi karena saya biasa menulis di komputer jeprut saya di rumah sedikit-sedikit, yang kemudian – setelah saya punya akses lagi ke internet (in a better way to said than : setelah saya punya uang untuk ke warnet), baru saya publish sekaligus.

Saya pindahkan juga tulisan-tulisan dari blog saya yang lama, jejak masa lalu.

So, selamat membaca dan mengkritik ! :)

And that ugly duckling has become a swan – not a beautiful one, but a self-appreciating one.