Arsip untuk Februari, 2008

h1

selamat hari kamis !

Februari 17, 2008

kamu musti bilang apa sih, kalo ada yang bilang ke kamu, ” selamat hari natal !”, atau “selamat idul fitri”, atau “selamat hari valentine”, atau “selamat hari halloween”..?

kalau saya, saya jawab : “selamat ulang tahun juga”.

———

Saya ngga merayakan valentine, tapi saya mengapresiasi orang yang merayakannya. Saya juga mengapresiasi hari AIDS sedunia, atau hari buruh, atau juga hari influensa, kalau emang ada.

Mircea Eliade, yang mana saya juga ngga tau siapa dia, pernah bilang di bukunya yang berjudul “Profan dan Sakral”, kalau di tengah kehomogenan hidup,  manusia butuh waktu – atau tempat – sakral. Dia butuh satu waktu dalam hidupnya untuk melepaskan diri dari rutinitas.  Dia butuh, kalau kita bilang sekarang, waktu untuk berkontemplasi.

Kenapa saling memaafkan disimbolisasi dengan idul fitri yang dilakukan setahun sekali ? kenapa menyatakan cinta jadi begitu besar artinya di hari valentine ? kenapa  juga umat Hindu ngga merayakan nyepi setiap hari ? (kalo itu saya bisa tebak2 kenapa…)

———

Terlepas dari apa latarbelakang dari dibuatnya hari itu, kita butuh satu waktu untuk mengingatkan kita, sebut saja, untuk mengungkapkan cinta, atau bersyukur, atau memaafkan, atau berkontemplasi, atau berempati pada buruh sedunia. Pernah denger “Law of diminishing marginal return”? Bayangin kalau kamu setiap hari  mensakralkan hari untuk saling memaafkan  ! Yup, makin lama hari saling memaafkan akan menjadi tidak ada artinya, dan demikian juga saling memaafkan itu sendiri..sama kaya makin lama kamu akan makin bosan dengan artis tercantik yang kamu sukai kalau setiap hari kamu harus ngeliatin artis itu terus…terus…dan terus.

——-

saya bisa menetapkan 365 hari dengan peringatan yang berbeda2, satu hari tertentu saja setiap tahunnya : hari mencukur jenggot, hari vespa, hari penyakit mata ikan, hari sapi, ….. hari apapun untuk mengingatkan kamu ttg pentingnya sesuatu itu bagi hidup kamu, dan itu adalah pilihan. Tentunya, kalau itu jadi hari kolektif (baca : diperingati bersama), hasilnya jadi lebih asik ya..lebih, kena ! hehe..

tapi, semua orang  kan tau kalau kita ngga make vespa tiap hari itu aja, atau ngga sakit flu hari itu aja, atau ngga saling memaafkan dan menyatakan cinta hari itu aja kan ? iya lah, siapa juga yang ngga tau. hehehe.

——–

Winnie the Pooh pernah berjalan2 dengan Piglet, dan bingung harus kemana..lalu Pooh bilang, gimana kalau kita ke rumah Rabbit aja. Tapi Piglet, si ragu-ragu, bingung, dalam rangka apa kita ke rumah Rabbit ?  Pooh bilang, kita merayakan hari Kamis..bilang aja ke Rabbit, selamat hari Kamis ! kita bisa melakukan apapun di hari Kamis, ….yup, dan sekalipun Rabbit ngga setuju dengan “hari Kamis”, mereka tetap menikmati hari  yang menyenangkan bersama…Jadi, selamat hari Kamis !!

h1

silly idea (1)

Februari 13, 2008

ga tau kenapa, tiba2 kepikiran, mengingat banyaknya cerita kawin-cerai..dan di ujung perceraian, si pasangan berdiri di persidangan memperebutkan pembagian harta (kalo bukan anak ya..), as if yg dulu mengikat mereka utk menjadikan harta itu milik bersama adalah cinta, yg sekarang udah ga ada lagi..

gimana kalo, misalnya ini mah ya…itu dibalik ! jadi ketika mereka nikah, buat harta mengikat cinta mereka ! bukannya mendiskreditkan cinta ya..tapi kan kita ga tau apa kabar dgn cinta, sebut aja 5 tahun kemudian. Jadi buat perjanjian hitam di atas putih, kalo yg menggugat cerai harus membayar sejumlah ganti rugi sebesar Rp.xxx.xxx.xxx, (pokonya mahal deh..) ke tergugat. kan cara kaya gini juga yg ngiket para pekerja di perusahaan untuk ga jadi kutu loncat.hehehe…Jadi, alih-alih ngebuat cinta  mempertahankan harta bersama, buat harta yg mempertahankan cinta bersama….bingung kan ?

Silly idea..tapi mungkin, bagi masyarakat yg udah ga mengenal lagi komitmen, tanggungjawab, dan kasih sayang…cara ini layak dicoba ! hehehe…mungkin loh ya.

h1

peng-anggur-an

Februari 8, 2008

saya ga tau apa ini bisa –sedikitnya — menghibur temen-temen saya yg punya status ini : pengangguran..tapi tau ga’ seberapa penting pengangguran itu buat ekonomi makro ?

You know what, perekonomian butuh pengangguran. Kenapa ? karena tanpa pengangguran, akan terjadi stagnasi ekonomi. Harus ada pengangguran dalam jumlah tertentu yang memungkinkan terjadinya keluar masuk tenaga kerja antara perusahaan-perusahaan. Perusahaan yang berkembang butuh tenaga kerja baru, dan perusahaan yang stagnan harus melepas tenaga kerjanya demi efisiensi.

Sekarang bayangin kalau ‘para penganggur’ sangat sedikit. Kalau kita melihat tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi (sumberdaya), maka hukum supply-demand main disini. ‘Harga’ tenaga kerja akan menjadi terlalu mahal (karena permintaan atas tenaga kerja melebihi penawarannya), dan pilihan bagi perusahaan adalah : satu, stagnan (i.e. tidak berkembang) dari kondisinya saat ini, atau dua, merekrut tenaga kerja tersebut dengan harga yang tinggi. Oke, poin kedua kita pending dulu..yang pasti, akan ada mekanisme dimana perusahaan yg stagnan tadi harus melepas sebagian tenaga kerjanya demi efisiensi, dan ini menyebabkan angka pengangguran kembali pada kondisi ekulibrium — angka pengangguran yang diharapkan..hehe, buat catatan : jadi, PHK atau ‘kutu-kutu loncat’ itu sah-sah aja dari sudut pandang ekonomi makro..untuk manajemen perusahaan, itu lain soal.

Oke, inget poin 2 tadi ? nah, kita coba masuk ke satu isu yg ga kalah penting…kalo perusahaan tetep harus merekrut tenaga kerja yg bayarannya mahal itu, ga ada lagi mekanisme yg bisa dilakukan perusahaan (asumsi : teknologi efisiensi ga berkembang dalam waktu secepat itu..) selain menaikkan harga produk yg dihasilkan. di sisi lain, peningkatan pendapatan (karena banyak orang yg dapet kerja) juga meningkatkan jumlah uang beredar di masyarakat..Terus konsekuensinya apa ?

yup, rendahnya pengangguran menyebabkan terjadinya inflasi !!! ini adalah hukum yang dirumuskan John Maynard Keynes (si ahli ekonomi itu loh..) tentang hubungan inflasi dengan pengangguran, dan ini berlaku di banyak negara2 maju..kebalikannya, banyaknya penggangguran menurunkan angka inflasi duoonk..hehe

sorry sedikit loncat..masalahnya kasus di Indonesia agak unik euy..di negara kita tercinta ini, inflasi terjadi beriringan dgn meningkatnya angka pengangguran..ko bisa ? Gini..Mankiw di bukunya “Macroeconomy” cerita kalo inflasi bisa disebabkan oleh dua hal…inflasi yang disebabkan oleh permintaan, demand-pull inflation (cerita ttg penangguran di atas), sama satu jenis inflasi lagi…cost-push inflation. Inflasi yang didorong oleh kenaikan biaya produksi. Intinya sih mirip-mirip, cuman masalahnya, disini inflasi bukan disebabkan oleh tingginya permintaan akan uang dan kenaikan biaya produksi di sektor tenaga kerja, tapi kenaikan biaya di sektor yg lain (e.g. bahan baku)..di Indonesia contohnya, itu gara-gara kenaikan harga BBM, yang mana dipengaruhi oleh gejolak ekonomi dunia jg…Jadi, buat para pengangguran, jangan berkecil hati gara-gara ga bisa nurunin tingkat inflasi di indonesia, hoho…..soalnya, masih ada 1 hal tentang ke-pengangguran-an (halah..) yg mungkin bisa ngehibur temen2….

tau ga, kalo berdasarkan definisi unemployment dari ILO, pengangguran didefinisikan sebagai keadaan dimana orang-orang di dalam batas usia produktif (rentang usianya beda-beda di tiap negara) tidak bekerja, siap untuk bekerja, atau sedang mencari kerja.. bekerja juga punya definisi sendiri, tapi intinya memiliki penghasilan/dibayar sekian US$ sehari (angka pastinya saya lupa, coba cek di sini), whether it is paid-employment (kerja ke orang/perusahaan), atau self-employment (wirausaha). Jadi apa ? Jadi, semua yang ada di rentang umur tertentu itu (kalo ga salah penduduk usia kerja itu >15 th) dan ngga’ “bekerja” dianggap sebagai pengangguran, termasuk mahasiswa dan ibu rumah tangga. Huehehe…puas ? Jadi temen2 ga sendirian kan ?

Tapi susah deh ngehadapin norma sosial yang ada..kita dianggap ngga’ berhasil kalo jadi pengangguran (i.e., ga kerja di perusahaan/instansi tertentu)..padahal, menurut saya, pengangguran atau ngga bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah kita produktif atau ngga..itu kuncinya. You know, meski menganggur dan tidak produktif sering diartiin sama, tapi itu dua hal dalam dimensi yang berbeda. Banyak orang yg berstatus pengangguran tapi produktif, ga peduli apakah produktivitasnya ngga cukup ngehasilin duit sampai bisa dikatakan “bekerja”..dan kamu tau apa yang lebih miris, ngga sedikit juga orang berstatus pekerja tapi justru sangat-sangat tidak produktif (kondisi orang-orang inilah yang oleh para ekonom dinamakan penggangguran tersembunyi, hidden unemployment atau underemployment).

Jadi itu, ga usah berkecil hati jadi pengangguran, tapi jangan pernah berhenti untuk selalu produktif. Karena bekerja, masih menurut saya, bukan masalah mencari uang atau status, tapi bisa berkarya dan berperan untuk diri ini dan masyarakat…and that my friends, is what life is all about !

h1

seringkali

Februari 7, 2008

Seringkali, manusia berhenti di persimpangan jalan evolusi peradaban, dan kemudian salah memilih jalan hanya karena ia tak mau berrefleksi sedikit lebih lama, atau berpikir sedikit lebih dalam. Rachel Carlson memberikan salah satu contoh dalam bukunya, Silent Spring. Di bukunya itu, Carlson bercerita bagaimana revolusi hijau, yang telah berhasil mengatasi permasalahan kelangkaan pangan, menimbulkan satu masalah baru yang sama berbahayanya, kerusakan lingkungan dan peracunan secara terus menerus terhadap umat manusia..

Atau mungkin karena itu…karena manusia belajar lebih banyak dari kenyataan – sepahit apapun itu – , ketimbang dari imajinasi2 logisnya. Mungkin harus ada genocide dan pembantaian puluhan ribu nyawa bangsa Yahudi untuk sadar bahwa nyawa itu berharga. Atau mungkin harus ada ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki untuk sadar bahwa ilmu pengetahuan hendaknya dimanfaatkan secara bijaksana…atau, harus ada perubahan iklim global beserta semua bencana bawaannya agar kita sadar bahwa apa yang kita berikan terhadap lingkungan akan memberikan umpan balik kepada diri kita sendiri pada akhirnya..

Ya, manusia memiliki akal, tapi seringkali manusia begitu tidak mempercayainya hingga ‘alam’ harus menunjukkan padanya bahwa ia memang benar..seringkali, seringkali jawabannya harus begitu menyakitkan untuk benar-benar membungkam gerak langkah peradaban.. Tapi tidak ada langkah mundur, betapapun kita ingin kembali bercengkerama dengan alam seperti dulu. Yang harus kita lakukan adalah berjalan dua kali lebih lebar untuk membayar kerusakan yang kita buat, dan di saat yang sama mempercayai semua pertimbangan imajinasi logis kita untuk tidak mengambil jalan yang ’salah’ lagi.

Tapi seringkali sepertinya terlalu sering..dan manusia bukanlah keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali. Tidak. Kita bisa jatuh ke lubang yang sama berpuluh-puluh kali, hingga luka yang sama itu memukul balik begitu kerasnya untuk menyadarkan manusia, and yet, still we are, as ignorant as ever..dan itulah, menurut saya, yang menjadikan kita manusia.

h1

sidang: penyiksaan berkepanjangan (edited)

Februari 5, 2008

Sidang S2, penyiksaan berkepanjangan. Sempet saya mikir gitu, meskipun akhirnya setelah dijalanin menyenangkan juga (hueeeksss)..

Kalo S1 cuman dua kali ngejalanin : seminar KK, dan sidang..hoho, wait till you see this :

S2, (mohon maaf, komentar di bawah cuman bentuk dramatisasi, terinspirasi cerita beberapa temen S2, terus terang yg saya jalanin lancar2 aja, semoga tetep..Amiin.)

Seminar proposal :

“Penelitian apaan tuh ?!!” “masa’ metodenya gini ??” “dasarnya apa kamu bikin metode itu??” “ulang..ulang !! bikin lagi proposal penelitiannya !!”

6 bulan kemudian, kalo lancar, Latihan Seminar di KK :

“hadduh..hadduh, hasilnya ko gitu ?” “kenapa metodenya jadi kaya gitu sih ?? kan kemarin udah dibilangin ..bla..bla..” “Loh, analisisnya cuman segitu ? terus ??” “jadi kesimpulannya apa ??”

lewat itu, revisi kanan-kiri, Seminar Hasil Penelitian :

“tunggu..tunggu, perasaan seminar kemaren udah saya bilang suruh ganti deh..!” well, the rest is quite the same with the previous..

terus, belum cukup napas, ada lagi Sidang Thesis :

“halaman xx, maksud kamu apa ya ?” “ko struktur kalimatnya berantakan ??” “ini cara bacanya gimana sih ??!!”

dan akhirnya, Sidang Besar (komprehensif) :

“Jadi, apa yg dimaksud dgn xxx ?”"…ngg..apa ya pak,…ngg, sudah lupa tuh” Duaarrr !!

Hueee..rasanya lagi ngalamin Cruciatus curse..crucio,crucio,….waddaw..jadi pengen cepet2 di-Avada kedavra-in ..(hehe, gara2 abis nonton Hari Potret)

But then again, seperti kata saya di awal. Proses itu menyenangkan, kalo kita mau ngeliat dari sudut pandang yg positif, dari kemajuan ilmu pengetahuan dan proses pembelajaran kita (cie..cie). Masukan dari tiap tahap berharga banget, dan itu proses belajar yg seru..you know, kamu ga belajar dari kuliah2 yg bikin ngantuk, tapi juga ga seekstrem dunia nyata yg tiap ‘kesalahan’ kita berpengaruh pada ‘the rest of our life‘..

Saya bersyukur dan berterimakasih pada setiap stakeholder proses ini. Hope you can enjoy it too..one step forward in learning !

h1

tentang uang di dompet (edited)

Februari 5, 2008

Untung saya ngambil kuliah Makroekonomi di Studi Pembangunan SAPPK ITB, meskipun nilai jadi pas-pasan gara-gara jarang dateng..huehehe. Dosennya sampai ngira saya sit-in doang gara2 itu. bae ah, yg penting udah beres.

Tapi gara2 itu juga, saya jadi dikasih tugas ngebuat review 2 bab terakhir dari bukunya G.Mankiw, Makroekonomi. Salah satu babnya cerita tentang jumlah uang beredar dan fungsi Bank. Hmm, ternyata menarik juga loh. Coba baca deh, siapa tau bisa kebayang apa yg musti kita lakukan sama uang di dompet kita. Saya coba cerita yang saya tangkep..

Jadi gini, pertama, kita musti bisa ngebedain antara jumlah uang beredar dan jumlah mata uang (uang kartal) beredar. Dulu waktu di SMP kan kita pernah diajarin kalo yang dikatakan uang itu bisa uang kartal (yg biasa kita taro di dompet, kertas2 bergambar pahlawan itu loh..) sama uang giral (rekening giro kita di bank). Jumlah mata uang beredar itu jumlah dari nilai si kertas2 dan receh plastik (ga jelas) yg dikeluarin oleh Bank Sentral (BI). Ini jumlahnya hanya ditentukan oleh BI, kecuali ada orang yang kerajinan bikin uang palsu. Ini, sama orang-orang ekonomi disebut monetary base.

Tapi itu ga terlalu banyak diliat (meski tetep penting dalam analisis makroekonomi ko). Yang lebih penting adalah “jumlah uang beredar”, karena dia memperhitungkan rekening giro yang kita simpen di bank. Jumlah uang beredar menggambarkan uang yang memang beredar di masyarakat.

Mankiw bikin penyederhanaan yang menarik. Asumsinya, di negara tetangga ga ada bank. Itu artinya uang beredar hanya diitung dari berapa uang di dompet (dan brankas — atau bawah bantal kalo saya) masyarakatnya. Oke, uang ini, muter2 lah dia di masyarakat,dari penjual ke pembeli, dst. Makin tinggi uang beredar, (harusnya) kegiatan ekonomi makin berjalan baik, kecuali ada penimbun uang kaya paman Gober ya..

Terus diasumsikan, ujug-ujugly ada bank, yg fungsinya cuman buat nyimpen uang. Waktu uang disimpan di bank, nasabah megang rekening tabungan, yg punya nilai sama dgn uang yang ditabung. Ini namanya uang giral. Kenapa harus ada ? karena uang kertas yg disimpen di bank ngga diitung sebagai uang beredar, makanya dia diganti dengan bentuk uang yg lain ini. Jumlah uang beredar bakal tetep sama dgn sebelum ada bank. Kalo tadinya ada 1000 perak, terus ditabung 500 perak (artinya ada 500 uang giral), total uang beredar kan tetep 1000 (500 uang kartal + 500 uang giral). Btw, uang giral tetep dikatakan uang, karena masih punya fungsi uang loh..perhitungan nilai, alat transaksi, n pengukur kekayaan..

Nah, sekarang kita masuk ke bagian yg seru. Gimana kalo bank juga minjemin uang ? Kalo bank minjemin uang, sebenernya ada aturannya loh. Dia harus nyimpen sebagian kecil uang sebagai cadangan, jadi kalo2 ada nasabah yg narik uang, bank ga bakal kerepotan. Kalo nasabahnya banyak, batas minimal cadangannya juga ngga usah terlalu besar. Jadi, tau cara gampang bikin Bank bangkrut ? ambil semua uang di bank itu secara serentak !! hoho..itu salah satu faktor pendorong resesi Amerika tahun 1930-an..itu juga kenapa bank yg kredibilitasnya turun makin cepet buat bangkrut..ck..ck..ck..

Oke, fokus. Balik lagi ke yg tadi. kalo si bank negara tetangga tadi nyimpen 500 dari nasabah, kan jumlah uang beredar tetep 1000. tapi kalo bank minjemin, ambil 80%-nya, jadi 400 ke peminjam, berarti…….uang beredarnya jadi 1400 (500 uang kartal, 500 uang giral, 400 uang kartal yg baru dipinjemin 400). Siap2 pusing lagi, kalo si 400 dipake utk transaksi, terus ditabung ke bank lain, terus dipinjemin lagi sama si bank lain itu,…terus,uang beredar nambah lagi..

Jadi apa ? Jadi, Bank menciptakan uang ….jreeeng !! dia ngga ngeluarin uang kertas sih (yg ngeluarin kan cm BI), tapi dia menambah jumlah uang beredar. Itu artinya nilai uang beredar lebih besar dari uang kertas yg memang ada. Btw, bisa sampe tak hingga kah penambahan jumlah uang beredar itu, asumsi uang terus ditabung dan dipinjemkan ? ngga juga, karena penambahannya bakal berkurang menuju nol (deret geometris dgn rasio <1, masih inget ? saya juga lupa..huehehe).

Wsssdststdstdtdtd…fokus lagi. Saya kebiasaan euy nulis kaya gini, gara2 novelnya Kurt Vonnegut, Gempa Waktu..cerita yg meloncat2..novelis yg aneeeeh..tapi keren. hehe.. see, i did it again !

Terus apa ? emang sih, jumlah uang beredar ga menunjukkan tingkat kekayaan negara tetangga. Toh, uang kartal yg dikeluarin tetep segitu2 aja. Dia cuman nunjukin kondisi perekonomian, dan ujung2nya kesejahteraan negara (in which tetep jd perdebatan karena faktor sosial jg ga diperhitungkan). Premisnya, makin tinggi perputaran uang, makin tinggi aktivitas perekonomian. betul gitu ? jangan percaya dulu…

Tapi, itu yg sedang dikejar oleh negara2 maju, dan negara maju-wannabe, indonesia. Sekarang lagi gencar2nya bank narik uang dari masyarakat, dan mentransform transaksi dgn uang giral, –kartu kredit, kartu debit, dsb..

mikir negatif –> bank lagi pengen bikin kaya pejabat2nya..

mikir positif –> bank lagi berusaha menyalurkan uang dari yg punya kelebihan uang ke yg butuh pinjaman uang..dgn gini, aktivitas ekonomi bisa berjalan karena uang ga ngendon di orang2 kaya aja..

mikir negatif lagi –> masalahnya, orang2 “tidak kaya” ga punya akses untuk minjem ke bank, dan penabung juga banyak yg “tidak kaya”, dan bank banyak juga yg lebih prefer utk nyalurin uangnya ke perusahaan besar karena jaminan pengembaliannya lebih tinggi. Jadi, mikir negatifnya tetep, bank bikin pejabatnya tambah kaya aja..huehehe.

Terlepas dari itu, kita kan masih bisa nabung di bank baik2..hehe. ada bank rakyat, bank ekonomi kecil, ada bank syari’ah..yah, masukin lah sedikit ‘moralitas’ di mekanisme prinsip ekonomi kita..hehehe. Yg penting, kita bisa berbagi uang dgn saudara2 kita, tanpa mengurangi uang kita.

jadi, tau kenapa uang di dompet saya cuman sedikit ? bukan, bukan..bukan gara2 saya nabung di bank..gara2 saya kebanyakan muterin uang di sektor riil tanpa mikirin orang lain (baca : KONSUMTIF). huehehehe…santai, santai.

nb : memutarkan uang di sektor riil yg sebenernya (baca : wirausaha) menurut saya lebih baik..makasih buat ridwan atas masukannya (cie..cie)

h1

pemdaku..pemdaku

Februari 4, 2008

Kerjasama dengan Pemda menyenangkan juga ya..yah, paling ngga kamu bisa yakin kalo kamu pasti dibayar,konsumsi tiap rapat selalu ‘istimewa’,perjalanan survey terjamin,kita ngga perlu harus selalu bikin kuitansi cuman buat makan di warung nasi tegal pinggir jalan…dan kalo di antara kita dan mereka udah punya rasa saling pengertian, yah,kamu juga ngerti kan ujung2nya..huehehe

Well,of course kadang kamu harus ngehadapin sedikit-banyak potongan dari anggaran yang kamu bikin, panik2 deket deadline tutup tahun,dijutekin kalo kita ngga “menjalin hubungan baik”,atau laporan hasil mikir pake-koproll cuman masuk tumpukan arsip tahunan..just look at the bright side,pelajaran berikutnya kan,ga usah bikin laporan pake “koproll” segala..,merem-melek cukup. hehe

ga cuman itu,main sama Pemda juga menyenangkan.kita bisa main kucing sumput dan kejar2an sama satpol pp (i.e., polisi2 bergaya hansip yang kerjaannya ngebongkar-tanpa-pasang tenda2 kupat tahu en kios roko)..kita juga bisa main “mencari harta karun” di kantor2 pemda waktu ngurus ktp — ayo,temukan kantornya !!..kita bisa main “tunggu-dana-turun” dan “tebak-berapa-dana-terpotong”..atau yang paling seru, kita bisa banget main game Solitaire di komputer meja PNS yg nganggur gara2 rasio waktu kerja : waktu standby di sana sama dgn perbandingan gula : kopi waktu kita bikin kopi pait. Tapi,untuk yang terakhir ini,kamu musti gabung dulu jadi anggota perkumpulan-pemain-solitaire-yg-digaji..dan itu ga gampang mengingat banyak orang saat ini ngerasa kerja di perusahaan non-pemerintah ngga memungkinkan mereka utk bisa mengurangi waktu kerja tanpa mengurangi bayaran bulanan..

Saya ? sarkastis ? ngga’ ah.saya cuman ngeliat semuanya dari sudut pandang yang lebih positif. atau mungkin lebih tepatnya,sudut pandang yg telah dipositifkan kenegatifannya..halah.

Anyway,obrolan ke 1-2 orang di warung kopi nemuin saya satu hal (in which sy pikir sangat sangat tidak mewakili suara masyarakat indonesia secara umum)..bahwa mereka ga peduli kalo bpk-bpk di atas korupsi ratusan juta, atau dateng ke kantor buat ngejegrek absen and do-nothing, ..asal si 1-2 orang itu tetap bisa makan (and other needs pastinya), dan bpk2 di atas ga ngeganggu proses mencari makan itu….mau bpk2 jungkir balik koproll-backroll akrobat utk bikin laporan tahunan yg di-”puk-cing-ho”-kan (tumpuk,cicingkeun,poho),itu sih…………. monggo wae !