h1

Menjalin benang halus ekosistem

Februari 17, 2006

Bahasa yang digunakan dalam Buku Life – Pustaka Alam berjudul Ekologi. Saya ingat Pak Mien A.Rifa’I dari Herbarium Bogoriense, yang juga pernah menulis banyak tentang etnobotani, menjadi penerjemah bidang botani untuk buku itu. Buku yang bagus…

Dari dulu saya membayangkan kehidupan yang hidup selaras dengan alam. Manusia, kembali menjadi bagian dari ekosistem. Lahir – hidup, mecari makan, bereproduksi, lalu mati – lalu kembali terurai dalam daur besar materi di alam. Di beberapa tempat di pedalaman, kehidupan seperti itu masih ada. Tapi, hingga berapa lama ?

Pada kenyataannya, manusia berkembang.. Api, logam, bercocok tanam, roda, mesiu, hingga revolusi industri, semuanya menjadi momen-momen penting evolusi peradaban manusia. Sebagaimanapun merusaknya manusia kini – terhadap sesama, lingkungannya – , tetap tidak ada langkah mundur. Manusia masih bisa mengendalikan arah kebudayaan, dalam batas-batas tertentu. Dan kemanakah arah yang kita inginkan ? Bagi saya, jika dulu kita berusaha terbang dan melepaskan diri dari alam, sudah waktunya kita kembali mendarat.

Erich Fromm mengatakan, manusia dapat menyadari keterpisahannya dari alam. Ia dapat merefleksikan eksistensinya, dan baginya itu adalah sesuatu yang berat – menyadari bahwa ia sendiri. Manusia sejak kecil terikat, dan memiliki kecenderungan untuk terikat – baik secara fisik ataupun psikis. Ketika ia terlepas dari ibunya, ia akan berusaha mencari tempat bergantung lainnya.

Manusia, menurut Fromm, tersiksa dengan kesendiriannya. Dari sana, ada beberapa hal yang dapat ia lakukan. Ia bisa bersubmisi terhadap alam, melepas eksistensi terpisahnya. Ia mengingkari kemampuannya untuk berpikir dan berkembang Atau ia bisa berusaha menaklukan alam, orang lain, dan apapun di sekitarnya. Ia akan begitu tergantung untuk berkuasa atas lainnya, dan terkadang hal ini dapat membawa bencana. Atau ia dapat pula lari pada ketidaksadaran – mabuk, obat-obatan, dan hal lain yang membuatnya melupakan beban berat kesendirian itu.
Terakhir, ia dapat menyadari eksistensinya sebagai sesuatu yang terpisah, menerimanya, lalu hidup dan berkembang dengannya. Ia, dengan penuh kesadaran, dapat menggabungkan diri ke dalam satu jiwa kemanusiaan…menjalinkan diri ke dalam benang-benang halus ekosistem.

One comment

  1. Nice article & useful. thanks.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: