h1

tentang pilihan

Februari 17, 2006

Kami dibawa ke lapangan. Di sana panitia ‘menyerahkan’ kami kepada swasta. Lalu, entah karena kesalahan apa, salah seorang dari kami dikelilingi oleh swasta-swasta yang kami tidak ketahui nama-namanya. Saya, yang menyaksikan itu, sedikit mengeluh, “mengapa ini harus terjadi?” ..masih berpikir apa yang sudah kami lakukan yang membuat kami harus menerima akibat seperti ini. Teman saya, dalam keadaan push-up, ditarik satu tangan dan kakinya..”Apa-apaan ini?”, pikir saya. Lalu swasta-swasta itu mendatangi saya. Mereka bertanya, apa maksud saya berkata seperti itu. Saya ditampar, sekali, dua kali, tiga kali. Boleh jadi saat itu kesabaran saya habis. Saya membalasnya dengan satu pukulan. Sayang, tidak telak. Tapi, tiba-tiba semua gelap. Ketika saya sadarkan diri, saya sudah berada di satu ruangan dengan tempat tidur. Dikelilingi beberapa orang, yang cukup ramah kepada saya..Sudah bukan swasta lagi sepertinya..oh, rupanya KSR sudah merawat saya selama pingsan beberapa saat yang lalu.
Padahal acara-acara sebelumnya cukup bagus. Materi-materi yang disampaikan melalui metode diskusi sedikit banyak berkesan bagi saya. Saya hanya ingin belajar berorganisasi, di ITB. Pelajaran yang sudah pasti ngga saya dapat waktu sekolah dulu. Apalagi, di sini, himpunan menawarkan banyak sekali peluang bagi saya untuk maju.Hhhh…bahkan dari kesannya saja, ketika saya masuk himpunan….begitu membanggakannya mengenakan jaket itu.
Sekarang, waktu saya melawan, saya ngga tahu apa yang akan terjadi pada saya di jurusan. Intimidasi, diskriminasi,…saya dihadapkan pada masalah yang pelik. Mengorbankan kehidupan sosial saya, atau membiarkan fisik dan harga diri saya diinjak-injak..Beberapa teman saya yang tetap bertahan untuk menjadi anggota himpunan, kini diacungi jempol oleh masyarakat mahasiswa ITB. Berani, katanya..tapi, salahkah saya jika saya juga memberanikan diri untuk menolak perlakuan semena-mena terhadap diri saya ? ….meski itu berarti menarik kembali janji saya untuk menanggung segala konsekuensi pilihan saya masuk himpunan ini..tapi, saya tidak pernah tahu jika ternyata saya harus memilih kucing dalam karung…..mana mau saya meraih kebanggaan komunitas kalau harus mengorbankan kebanggaan diri saya..!
—————————-

Aku ngga ngerti dengan anak-anak zaman sekarang. Begitu rendah keberanian, inisiatif, dan semangat juang mereka. Perasaan, waktu aku dulu seumuran mereka, mengalami yang mereka alami, aku bisa tetap kuat bertahan. Dan akhirnya, aku di sini bisa dapet banyak hal. Apalagi kejadian memalukan yang dilakukan para peserta kemarin. Lemah sekali mental mereka. Tidak ada kebanggaan sama sekali menerima mereka menjadi anggota himpunan. Kemarin, satu orang pura-pura pingsan. Buktinya, waktu retsletingnya dibuka oleh KSR, dia langsung bangun. Jeleknya, mereka lalu mengambil posisi mundur, bahkan berani berkonfrontasi dengan kami, bersaksi palsu tentang hal-hal jelek yang kami lakukan. Mereka sembunyi di balik rektorat, yang sejak dulu memang memperlakukan kami secara tidak adil. Memperlakukan mahasiswa tepatnya. Alasannya, kami mengintimidasi lah, mengancam lah, memaksa lah, melanggar HAM lah….padahal, sejak awal kami sudah memberikan pilihan kepada para mahasiswa baru untuk masuk himpunan atau tidak. Kami tidak pernah mendiskriminasikan mereka jika mereka memilih non-himp. Tetapi ketika mereka memilih satu opsi, sudah sepantasnya mereka menjalankan segala konsekuensinya. Salahkah kami jika kami mengajarkan kepada mereka tanggung jawab ? Bahkan dalam kehidupan nyata, mereka akan dihadapkan pada konsekuensi yang ada di luar perkiraan mereka. Apakah mereka lalu mundur disana ? huh, pengecut sekali !
Sudah sewajarnya satu organisasi mengalir membutuhkan kader-kader yang siap membangun organisasinya kelak. Orang-orang yang berkomitmen, punya semangat juang dan kebersamaan, tidak egois, dan bertanggung jawab. Juga orang-orang yang kuat menghadapi tekanan, dan bermental baja. Itu adalah output yang kami harapkan dari para peserta setelah mengikuti OS ini. Sekarang, coba tunjukkan, dimana letak kesalahannya ! Dan kalau boleh aku bilang, ini satu kerjaan yang berat, melihat bagaimana mental anak-anak baru sekarang. Mereka yang sudah merasa nyaman dengan dunianya, dan hanya mengejar keinginan pribadinya saja : cepat lulus dengan IP tinggi, dan bersenang-senang selama menjalankannya…Hhh, mau dibawa kemana ITB jika seperti ini caranya ? Aku yakin, kamu tidak akan bilang kalau aku salah jika aku berusaha mewujudkan lulusan ITB yang siap membangun bangsa, mengangkatnya dari keterbenaman…bukan lulusan yang hanya peduli pada perutnya saja.
Tapi, apa mau dikata. Bahkan rektorat pun sudah tidak mendukung gerakan kami. Mereka juga, telah menjadi antek neo-liberalisme dan orde baru. Mereka sudah lupa dengan janji dan perjuangan mereka dulu. Yang mereka pikirkan sekarang hanyalah kebanggaan…ITB sebagai lembaga dengan pendidikan dan penelitian nomor wahid. Tapi, mau dibawa kemana semua itu jika ITB sudah hilang rasa terhadap kemanusiaan. ITB sudah menjadi tiran sekarang, yang mengekang kebebasan kami, mahasiswa, hanya sekedar untuk berekspresi dan berserikat. Mereka kira, hanya dengan pendidikan formal yang diberikan di kelas, mahasiswa dapat survive di dunia nyata nantinya. Hhh, aku tidak terlalu berharap. Jangankan untuk memperjuangkan orang lain, untuk menolong diri mereka sendiri –lulusan ITB nanti — di tengah komunitas heterogen pun mereka akan kewalahan. Himpunan, unit, organisasi, kemahasiswaan…semua adalah pelajaran yang sangat berharga, dan kelak akan menjadi modal bagi mahasiswa yang nantinya adalah para pemimpin bangsa..Mati rasa saya jadinya melihat ini semua.

———————————-

Saya tahu ini. Saya juga pernah muda. Dan saya belajar, hal yang penting tentang bagaimana saya harus bersikap terhadap sesama manusia. Kejadian 10 tahun yang lalu seharusnya menjadi pelajaran berharga tentang nyawa seseorang. Para orang tua mahasiswa menyekolahkan anak-anaknya di sini bukan untuk diperlakukan semena-mena. Besar harapan orang tua itu, kelak anaknya lulus dengan membanggakan. Itu yang harusnya dilihat oleh para mahasiswa, senior, ataupun mahasiswa baru.
Saya tahu bagaimana semangat muda anak-anak baru untuk berorganisasi dan berkumpul. Meneriakkan yel-yel kebanggan dengan semangat kebersamaan. Kultur yang ada di kemahasiswaan, yang begitu inginnya kami ubah, adalah kebanggaan-kebanggaan akan kemahasiswaan itu sendiri. Kami tidak bilang bahwa kemahasiswaan itu salah. Tapi hendaknya esensi kemahasiswaan harus selalu melekat di dalam para mahasiswa itu sendiri, bukan hanya dibawa oleh arogansi. Kami mulai dari menghentikan arak-arakan saat wisuda yang hanya menggelorakan arogansi yang tidak jelas. Dimana letak ITB sebagai wadah orang-orang yang memiliki ilmu ? Kenapa kebanggaan — jika memang mau mengangkat itu — tidak ditunjukkan dengan karya-karya yang bermanfaat.

Pilihan ? Omong kosong. Apakah anak-anak baru memang memilih karena tahu apa yang mereka pilih. Saya pernah muda. Dan saya pernah menyadari bahwa semangat yang bergejolak itu seharusnya tidak boleh dibiarkan memilih..tidak, sebelum mereka bisa meletakkan rasio mereka di atasnya. Semangat saja, hanya akan membawa kepada kejelekan. Lihat orang-orang yang bertindak semena-mena terhadap orang lain, dengan semangat mendidik. Tapi yang ada, mereka hanya menjadi penindas. Apa mereka tidak bisa melihat kalau yang mereka lakukan sudah melampaui batas-batas kemanusiaan ? Juga orang-orang yang ‘ditipu’ dengan idealisme tinggi, membiarkan diri mereka diperlakukan semena-mena…apa mereka benar-benar sadar akan pilihan mereka ? Apakah mereka memang telah menyetujui bahwa mereka siap disiksa, ditindas, dijatuhkan harga diri, fisik, dan psikis mereka untuk bisa memperoleh apa yang mereka bangga-banggakan ? atau, pertanyaannya sedikit saya ubah…apakah mereka tahu bahwa mereka akan diperlakukan seperti itu..?
Ingin saya katakan agar mahasiswa meninggalkan cara usang itu. Dulu, di tengah tekanan pemerintah,..ya, mental kita harus kuat agar tidak jatuh kala berjuang. Tapi sekarang, yang dibutuhkan adalah tenaga-tenaga kreatif, yang siap membangun apa yang ditinggalkan rusak oleh orde baru. Jiwa-jiwa enterpreneur yang akan mengembangkan ekonomi bangsa dengan sendi teknologi. Metode-metode kekerasan hendaknya diganti dengan metode diskusi terbuka, pemberian materi, dan tekanan-tekanan alami, seperti report dan deadline…yah, simulasi dunia kerja lah..
—————————————-
Peristiwa yang dialami Himafi dan banyak himpunan lain akhir-akhir ini memberi banyak pelajaran berarti. Di sini, kita bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda, dan membawa ke jawaban yang berbeda-beda pula…….

untuk 2004 yang merasa teraniaya,.. atau 2004 yang tetap bertahan… saya puji keberanian teman-teman untuk menanggung konsekuensi dari dua tindakan teman-teman tersebut : dikucilkan dari komunitas kemahasiswaan, atau didiskriminasi dalam dunia akademis..memilih itu mudah, tetapi menanggung pilihan tersebut….itu baru tantangannya !

untuk para penyuara kebebasan mahasiswa…tetap berjuang untuk bisa berekspresi..sebagaimanapun kesalahan yang kita lakukan, harusnya tidak ada yang bisa mengekang kita untuk belajar..kita bukan robot, kita manusia…

untuk para pemegang kekuasaan…sungguh mengesankan bagaimana usaha bapak-bapak ini mengubah kultur — yang menurut bapak-bapak — buruk, dengan segala kekuatan dan aturan..di sini, keinginan untuk berubah dan penegakan aturan berjaya melawan kultur yang sudah mendarah daging….mungkin kelak inipun dapat menjawab permasalahan lain di bangsa ini yang terkait dengan tradisi-tradisi..

untuk angga……………..jangan kebanyakan ngelantur !!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: