h1

Mengapa manusia harus bekerja ?

Maret 28, 2006

Dahulu, manusia primitif masih berburu dan meramu untuk kelangsungan hidupnya. Seiring dengan evolusi peradaban, manusia mulai mengenal bercocok tanam dan tinggal menetap. Tumbuhan mulai dibudidayakan, hewan mulai dijinakkan dan dipelihara. Dimulai dari lembah sungai yang subur, manusia mulai mengembangkan kebudayaannya.

Langkah selanjutnya dari perkembangan manusia itu adalah spesialisasi. Semula, setiap individu mungkin masih menanam tanaman bagi kebutuhan hidupnya saja. Akan tetapi, bisa jadi manusia mulai berpikir untuk bertani satu komoditas saja, sedangkan orang lain mengembangkan komoditas lainnya. Wajar saja, karena tidak semua komoditas dapat dikembangkan di setiap tempat. Akhirnya, orang-orang pun mulai terspesialisasi sebagai petani, pembuat pakaian, pandai besi, peternak, dan lain sebagainya. Setiap orang memenuhi kebutuhan satu populasi masyarakat itu – yang masih dalam jumlah yang sedikit. Selanjutnya, konon, orang-orang yang menguasai lokasi strategis di daerah tersebut, seperti air, terspesialisasi menjadi raja. Versi lain, kebutuhan akan keteraturan dan kepercayaan yang menjadikan masyarakat satu daerah kemudian memilih seorang pemimpin. Yang jelas, bekerja pada definisi awalnya adalah proses saling memenuhi kebutuhan, saling memberi untuk kebaikan – tidak hanya diri sendiri — , tetapi juga satu kelompok masyarakat itu.

Roda, membawa manusia ke tingkat peradaban selanjutnya, yang memungkinkan manusia membawa hasil kerjanya dari satu tempat ke tempat lain yang jauh. Dari sini, dilakukan apa yang dikenal dengan barter. Setiap orang menukarkan hasil kerjanya dengan hasil kerja orang lain, agar kebutuhannya terpenuhi. Akan tetapi, kemudian masyarakat menemukan masalah dari barter, yaitu sulitnya memberikan nilai yang setara antara satu barang dengan barang yang lain. Apakah satu karung beras akan setara dengan satu karung kerajinan logam, dsb.

Karena itulah, kemudian muncul satu produk peradaban yang nantinya memberikan sumbangsih yang besar bagi maju – dan kehancuran – peradaban manusia : Uang. Dengan segala persyaratan, seperti tidak mudah rusak, mudah dibawa, tidak tersedia dalam jumlah banyak, tidak mengalami penurunan nilai, dsb, emas dan perak diajukan sebagai bentuk uang yang pertama. Ukuran dari logam tersebut -serta jumlahnya – menentukan nilai dari uang, dan pada akhirnya memberikan satu nilai kekayaan bagi seseorang.
Harus diakui, uang memberikan banyak kemudahan bagi manusia. Ia memberikan ketenangan kepada setiap orang yang memilikinya, ketenangan akan pemenuhan kebutuhan hidupnya di masa yang akan datang. Uang juga memberikan nilai yang pasti dari barang-barang kebutuhan hidup. Hasil kerja seseorang dapat dengan mudah ditukarkan dengan hasil kerja orang lain dengan ukuran yang pas.

Akan tetapi, terdapat satu kekhawatiran lain dari kehadiran uang, karena dengan uang, hasil kerja setiap orang akan dengan mudah dikuantifikasi. Lalu, berapakah nilai dari kerajinan logam buatan pandai besi misalnya ? Apakah seharga dengan bahan dasarnya dan tenaga yang dikeluarkan untuk pembuatan kerajinan itu ? Ataukah senilai dengan seberapa banyak orang yang membutuhkan atau meminta hasil karyanya ? Ukuran hasil karya itu akan menjadi satu dimensi saja, dimensi kebergunaannya.
Kekhawatiran lain dari uang adalah orientasi. Uang tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan, tetapi uang telah menjadi kebutuhan itu sendiri. Semua orang kemudian bekerja untuk uang. Ya, meski secara tidak sadar, proses saling memenuhi kebutuhan masih berjalan, tetapi tanpa kesadaran atas bekerja itu sendiri, esensi bekerja akan hilang, berikut segala nilai luhur dari bekerja yang pernah ada.
Saya dapat menunjukkan beberapa esensi yang hilang itu. Kini, orang-orang mulai mencari peluang dengan menghasilkan barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan, tapi seolah iya. Iklan dan promosi menawarkan kepada kita hal-hal yang ada di luar kebutuhan kita. Selain itu, memproduksi barang-barang berkualitas rendah, melakukan kecurangan dalam berdagang, juga menjadi indikasi mulai hilangnya esensi kerja itu.Bahayanya adalah ketika setiap orang merasa membutuhkan uang tanpa tahu mengapa.

Ya, uang akhirnya telah menjadi tujuan. Uang menjadi ukuran kekayaan seseorang. Sebagai contoh, petani dengan penghasilan rendah dikatakan petani miskin. Padahal, saya ingat kakek-nenek saya, –dan umumnya penduduk desa dahulu –, tidak memiliki uang sama sekali sehari-harinya, tapi tetap dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Apakah mereka miskin ?
Memang saya akui, spesialisasi itu telah menjadi sedemikian hebatnya, hingga satu masyarakat mengganti diversifikasi tani di lahannya untuk mengejar hasil yang maksimal untuk satu komoditas saja -sebut padi. Kebutuhan akan barang dari tempat lain menjadi begitu tinggi, sehingga uang akan selalu dibutuhkan bagi masyarakat tersebut. Sangat disayangkan, karena mungkin masyarakat tersebut masih dapat berusaha untuk mandiri dengan memberdayakan lahannya untuk komoditas lain.
Yang juga tak kalah bermasalahnya adalah masyarakat kota. Kota semula adalah daerah perdagangan. Di kota berkumpul semua barang-barang kebutuhan masyarakat, yang didatangkan dari tempat-tempat produksi di luar daerah tersebut. Masyarakat kota jarang dapat menghasilkan kebutuhannya sendiri. Mereka, karena itu, sangat membutuhkan uang untuk membeli kebutuhan hidupnya. Bentuk usaha yang dapat dilakukan oleh masyarakat kota sebatas berdagang, pelayanan masyarakat (jasa), atau mengolah kembali produk-produk dari luar agar dapat memberi nilai lebih bagi produk tersebut.

Tapi, walau bagaimanapun, manusia sekarang memang membutuhkan uang. Yang harus diingat adalah, bahwa uang hanyalah alat, untuk memenuhi ‘kebutuhan yang sebenarnya’. Dan karena ia hanyalah alat dan bukan tujuan, maka kita akan menemukan banyak pemenuh kebutuhan lain yang bisa kita dapatkan tanpa menggunakan uang. Sebut saja, kasih sayang, pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Tapi, bukankah pendidikan dan kesehatan pun membutuhkan uang ? Bukan, yang memerlukan uang adalah penunjang pendidikan dan kesehatan. Adapun esensi dari pendidikan dan kesehatan itu sendiri sangat tak terukur dengan uang.

Dengan dasar itu, maka bekerja bagi saya adalah berkarya. Saya menyadari bahwa saya kini adalah bagian dari satu masyarakat besar. Interaksi saya tidak sebatas pada lingkungan saya, tetapi juga dengan masyarakat lain di Jawa Barat, Indonesia, bahkan dunia. Karena itu – dengan tetap bertindak lokal –, yang harus saya lakukan adalah berpikir untuk memberi bagi sesama. Terkesan terlalu idealis mungkin, tetapi saya yakin bahwa rezeki sudah diatur oleh-Nya. Yang harus saya lakukan tinggal memberikan apa yang saya bisa sesuai dengan peran saya bagi masyarakat. Saya biolog, maka saya memberikan solusi-solusi bagi permasalahan masyarakat yang berhubungan dengan biologi. Saya orang yang memiliki pengetahuan, maka menjadi tugas saya untuk menyampaikan apa yang saya ketahui bagi orang lain. Yang terpenting adalah menemukan potensi diri ini, lalu berkarya. Bagi saya, itulah bekerja. Bagaimana orang lain mengapresiasi – atau juga mengkuantifikasi kerja kita, bukan lagi urusan kita, selain sebagai bahan evaluasi bagi kesuksesan kerja kita. Dan pada akhirnya, hanya Dia-lah Yang Maha Menentukan.

4 komentar

  1. setuju


  2. manusia memang di ciptakan melalui peradaban untuk menjadi masyarakat yang modern tenan


  3. Hmmm Nice posting…. I’m agree with urs


  4. Selamat,, i like … sangat memberikan inspirasi …trims



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: