h1

pengemis itu profesi

Desember 6, 2007

Menanggapi tulisan temen saya piki ; dan beberapa komentar lain yang serupa…..

Katanya kewajiban kita menyantuni fakir miskin..bukan pengemis.

Bagi saya, fakir miskin itu status ekonomi seseorang (seperti halnya ‘orang kaya’), yang menunjukkan ketidakmampuan orang tersebut untuk menjalani hidup secara layak.

Pengemis itu…profesi ?? well, paling tidak, ke-pengemis-an adalah ‘means of work‘ bagi seseorang untuk menghidupi diri, terlepas dari apakah penghasilannya sebagai pengemis menjadikan statusnya fakir miskin, menengah, atau kaya.

Ada banyak kacamata yang digunakan untuk melihat pengemis. Di dunia kita — dahulu setidaknya, meminta-minta dan mengemis merupakan tindakan yang dianggap merendahkan diri, dan hanya layak dilakukan oleh masyarakat dari kelas (sangat) bawah. Juga sebagaimana kita melihat, maaf, pelacur. Tapi, di tempat lain, dimana harga diri tidak dinilai berdasarkan sikap dan perilaku kita, tapi (misalnya) dari materi yang kita miliki, bisa jadi pengemis adalah bagian dari everyday life. Bisa jadi pula, di masyarakat kita sekarang, hal itulah yang terjadi.

Ada pula yang melihat pengemis sebagai bagian dari komunitas, menempati relung sesuai dengan perannya. Jika setiap orang bekerja sebagai bentuk perannya dalam jalinan halus interaksi masyarakat, maka peran pengemis menjadi jelas. Ia menjadi pelipur bagi orang-orang yang butuh kepuasan spiritual. Mungkin kita juga merasakan, bahwa terkadang ketika kita memberi satu dua keping uang logam, itu bukan untuk mereka (pengemis-red), tetapi untuk kita sendiri. Kita merasa lega dan terbebas dari kegelisahan akan tuntutan tanggungjawab sosial kita, tak peduli kemana dan untuk siapa uang itu kemudian mengalir. Di dalam masyarakat yang ignorant, pengemis sama pentingnya dengan pedagang, seniman, atau politisi.

Berbicara ttg bisnis dan menangkap peluang usaha, boleh jadi pengemis melihat peluang usaha dalam rasa iba orang lain, dan memanfaatkannya untuk mencari penghidupan, seperti halnya pengelola wisata yang melihat kebutuhan manusia akan hiburan, atau jasa baby-sitter yang melihat peluang di tengah kesibukan keluarga zaman sekarang yg sulit utk merawat anaknya.

Oke, di masa-masa stagnasi ekonomi di Amerika serikat pada tahun 1930-an, banyak pengusaha yang mendadak menjadi pengemis. Di tengah kaum borjuis dan kapitalis di Eropa, masyarakat proletar yang tidak ter’beli’ sebagai buruh, pun menjadi pengemis. Mungkin itu juga yang menjadikan image pengemis begitu rendah, …karena ia menjadi simbol kegagalan.

Kalau kita bicara , “jangan menjadi pengemis & cari pekerjaan lain !”, maka kita telah membawa nilai-nilai tertentu yang kita yakini dalam melihat orang lain. Tidak salah. Tapi karena nilai itu berbeda untuk tiap orang — seuniversal apapun nilai itu berlaku –, ada baiknya kita menyadari bahwa mengemis pun bisa jadi bukan pekerjaan yang buruk bagi mereka. Tidak heran, ketika seorang teman pernah menawarkan pada pengemis untuk meninggalkan ‘pekerjaan’nya dan menjadi pembantu rumah tangga di rumahnya, pengemis itu justru berkilah bahwa pekerjaannya itu lebih baik..Mungkin saja karena ia berpikir dengan menjadi pengemis, ia bisa menjadi tuan bagi dirinya sendiri. (atau karena earning per effort -nya lebih besar). Who knows?

Memberantas kemiskinan berbeda dengan memberantas ke-pengemis-an, meskipun Roger dalam bukunya — Introduction to Sustainable development — bilang kalau kemiskinan subjektif sedikit banyak terwakili oleh ke-pengemis-an (kalau saya ngga salah nangkep). Kalau kita ingin memperjuangkan nilai kita kepada orang lain, maka pendekatan yang dilakukan harus menyentuh mindset mereka, membuat mereka menerima nilai itu pula — mereka “sadar” bahwa mengemis itu “tidak baik”. Baru, setelah itu, mereka bisa (dibantu) menemukan means of work yang lain, yg masih dalam lingkup nilai yg kita terima.

Terlepas dari itu semua, profesi pun butuh apresiasi. Jika semua orang tidak berperan sebagai ‘pemberi’ bagi pengemis, yaa, mungkin tidak akan ada pengemis…atau mungkin juga angka kemiskinan akan bertambah.

Saya tidak merasa tertipu jika ada pengemis yang memakai handphone mahal, sekalipun saya tidak punya handphone seperti itu — sama halnya saya tidak keberatan membayar lebih harga ayam goreng tepung ke MacDo**lds –yg harusnya bisa saya beli lebih murah di Kentuku Fried Chicken di pertigaan Gegerkalong (sengaja nyebut merek,buat promosi..hehe) –, meski saya tahu si empunya MacDo**lds jauh lebih kaya dari saya. Selama tidak ada pemaksaan, maka cara-cara apapun untuk bertransaksi, masih cukup fair bagi saya…

One comment

  1. yang ketipu itu kan yang mikir bahwa premis ‘semua pengemis itu miskin’ itu benar.. haha…
    tidak selamanya yang kita pikir benar itu benar:) yah, latian lebih kritis lah.. siapa tau pacar kita yang di depan kita baek banget pun ternyata selingkuh..
    “o..o.. kamu ketauan:)”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: