h1

seringkali

Februari 7, 2008

Seringkali, manusia berhenti di persimpangan jalan evolusi peradaban, dan kemudian salah memilih jalan hanya karena ia tak mau berrefleksi sedikit lebih lama, atau berpikir sedikit lebih dalam. Rachel Carlson memberikan salah satu contoh dalam bukunya, Silent Spring. Di bukunya itu, Carlson bercerita bagaimana revolusi hijau, yang telah berhasil mengatasi permasalahan kelangkaan pangan, menimbulkan satu masalah baru yang sama berbahayanya, kerusakan lingkungan dan peracunan secara terus menerus terhadap umat manusia..

Atau mungkin karena itu…karena manusia belajar lebih banyak dari kenyataan – sepahit apapun itu – , ketimbang dari imajinasi2 logisnya. Mungkin harus ada genocide dan pembantaian puluhan ribu nyawa bangsa Yahudi untuk sadar bahwa nyawa itu berharga. Atau mungkin harus ada ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki untuk sadar bahwa ilmu pengetahuan hendaknya dimanfaatkan secara bijaksana…atau, harus ada perubahan iklim global beserta semua bencana bawaannya agar kita sadar bahwa apa yang kita berikan terhadap lingkungan akan memberikan umpan balik kepada diri kita sendiri pada akhirnya..

Ya, manusia memiliki akal, tapi seringkali manusia begitu tidak mempercayainya hingga ‘alam’ harus menunjukkan padanya bahwa ia memang benar..seringkali, seringkali jawabannya harus begitu menyakitkan untuk benar-benar membungkam gerak langkah peradaban.. Tapi tidak ada langkah mundur, betapapun kita ingin kembali bercengkerama dengan alam seperti dulu. Yang harus kita lakukan adalah berjalan dua kali lebih lebar untuk membayar kerusakan yang kita buat, dan di saat yang sama mempercayai semua pertimbangan imajinasi logis kita untuk tidak mengambil jalan yang ‘salah’ lagi.

Tapi seringkali sepertinya terlalu sering..dan manusia bukanlah keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali. Tidak. Kita bisa jatuh ke lubang yang sama berpuluh-puluh kali, hingga luka yang sama itu memukul balik begitu kerasnya untuk menyadarkan manusia, and yet, still we are, as ignorant as ever..dan itulah, menurut saya, yang menjadikan kita manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: