h1

menatap masa lalu

Juli 12, 2008

(fotonya saya ambil dari sini . Trims!)

Tiap jalan keluar (dari) kota – ke pantai, atau gunung, atau manapun yg udaranya masih cukup segar dan langitnya masih belum ditutupin kabut-asap-polusi, saya paling seneng ngeliatin tebaran bintang di langit malam. Langit bener2 gemerlap, tapi kerasanya begitu damai. Kalau saya terus ngamatin langit selama 15 menit aja, sesekali saya bakal ngeliat “shooting star”, — apa sih bhs indonesianya, ‘bintang jatuh’ atau ‘bintang menembak’ ya? hehehe…Di perjalanan terakhir saya ke gorontalo, saya jg dapet pemandangan itu. Cuman mengingat saya ngga bawa kamera dan susah jg dapet pemandangan bintang di langit pake kamera saku biasa, ya terpaksa saya minjem foto orang lain..

Anyway, sambil ngeliatin bintang, saya nyadar bahwa yg saya liat saat itu adalah pemandangan masa-lalu, tahunan, ribuan, hingga jutaan tahun lalu. Ini kaya’ ngeliat kumpulan foto-foto jadul, dari film beberapa tahun lalu sampai beberapa juta tahun lalu. Bener kan ? soalnya, jarak bintang-bintang itu dari bumi kita tercinta bisa sampai jutaan tahun cahaya. Bintang yang paling deket dari kita aja (selain matahari) – Alfa centauri, jaraknya kurang lebih 4 tahun cahaya. Artinya, cahaya, dengan kecepatan 300.000 km/detik, berjalan dari bintang itu ke mata kita selama 4 tahun..artinya lagi, apa yg kita liat sekarang adalah Alfa centauri 4 tahun lalu…sekarang gimana dgn bintang-bintang berjarak jutaan tahun cahaya ?

Jadi, seandainya ada teleskop super-duper-kuat yg bisa ngeliat sangat detail kehidupan di angkasa sana, dan seandainya di galaksi lain yg berjarak jutaan tahun cahaya ada planet dengan umur dan kondisi serupa dgn planet bumi, dan seandainya ada bentuk kehidupan semaju manusia sekarang yg dengannya kita berharap bisa berkomunikasi, …kita mungkin hanya akan ngeliat sejumput makhluk-makhluk mikroskopis pertama yg lagi berenang-renang di pangkal jalan evolusi..ngga seperti yg kita harapkan !

tapi, tau ngga, berpikir sedalam itu saat mengamati tebaran bintang di langit membuat saya sadar bahwa manusia hanyalah bagian sangat kecil dari alam semesta ini, dan semua beban hidup terasa sangat ringan,…dan itu semua memberi energi baru dalam hidup ini untuk tetap terikat dalam jalinan halus kehidupan.(halah)

2 komentar

  1. Waaahhh, khas kang angga lagi…

    Hihihi, bisaa aja ya…berfilosofinya, manstap kang…

    Beuh, jennuh nih kerja di malangbong-garut selatan.. :p


  2. Yaahh.. Mnurut saya keren banget filosofi kamu.. Pokok’y keren abiz dech..!



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: