h1

merdeka!

Agustus 22, 2008

Seperti yang pernah saya tulis di tulisan saya yg lalu (Selamat hari Kamis), selalu ada satu hari untuk apapun. Karenanya, hari itu — 17 Agustus –, saya tetapkan bagi diri saya sebagai hari kemerdekaan…
hari dimana saya merenung dan merefleksikan apakah kemerdekaan untuk saya.

Saya sempat bingung, Apakah ada hal yang disebut merdeka ?
Bukankah seringkali kita — meski merasa merdeka — tetap dijajah oleh orang lain, oleh keadaan, oleh tuntutan-tuntutan ?
Berapa sering saya mendengar mereka yang bilang kalau Indonesia sebenarnya belum merdeka — masih dijajah dalam hal ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya oleh bangsa lain…
Lalu apa itu merdeka ?

Teman saya pernah bilang,
di tengah segala tekanan, dan tuntutan yang -sepertinya- mengekang kita dari kebebasan,
atau di antara orang-orang yang menindas dan ‘seolah’ mengatur kehidupan kita….
semua itu menjadi kembali pada cara pandang kita terhadap hidup.
Ketimbang memberontak dari tekanan atasan, misalnya — dengan dalih menuntut kemerdekaan –, kita bisa mengubah sudut pandang kita and make us coup with them in a positive way.
..itu kata teman saya.

Tapi kalau begitu masalahnya,kenapa para pejuang dulu ngga ngerubah saja sudut pandang mereka dari ‘terjajah’ menjadi ‘merdeka’ tanpa harus mati-matian membela kemerdekaannya – dan kemerdekaan bangsa ini…
toh, itu semua hanya tentang mindset saja khan, kita dijajah atau ngga ?

Saya dulu bodoh untuk berpikir begitu..
dan saya tidak menghargai semua perjuangan dan tetes darah yang ada…
karena sekarang, akhirnya saya bisa mengerti apa yang sebenernya diperjuangkan itu.

Kemerdekaan (bagi saya) adalah ketika kita bisa memilih….
Bukan ketika kita bebas menentukan nasib kita, karena terkadang kita tidak bisa menentukan kemana arus hidup ini membawa kita..
bukan ketika kita menjalankan yang kita mau, karena kadang tidak semua yang kita inginkan datang di depan mata kita..
…tapi ketika kita bisa memilih, dan mengetahui apa yang ada di balik pilihan itu. Tidak ada istilah ‘memilih secara terpaksa’, karena ketika kita dipaksa, tidak ada pilihan.

Kemerdekaan (bagi saya) adalah ketika apa yang mengikat dan mengekang kita bukan lagi perintah atasan,
bukan nilai sosial,
bukan tuntutan ekonomi ..
tetapi hanya konsekuensi — tanggungjawab yang melekat pada setiap pilihan
..itu saja.

Apa yang mereka perjuangkan dulu — para pahlawan yang meneteskan darah dan keringatnya—
bagi saya, bukan soal ketertindasan,
bukan soal terbebasnya bangsa dari penderitaan..
tapi tentang kemerdekaan untuk memilih dan bertanggungjawab sepenuhnya atas pilihan kita.
Karena penderitaan pasti akan selalu datang,
tapi hendaknya ia datang karena kita memilih untuk itu,
bukan karena yang lain.

Kemerdekaan adalah tentang individu manusia..
bukan tentang jantung, atau ginjal, atau organ lainnya yang tidak akan dapat bertahan hidup sendiri…
..tapi tentang manusia secara keseluruhan,
yang tidak pernah merdeka dari ikatan halus kehidupan — ketergantungan akan sumberdaya, sesama, dan alam –,
tapi merdeka untuk memilih apa yang ia harus jalani untuk memenuhi ketergantungannya itu.

Indonesia, dan manusia yang ada di dalamnya, telah merdeka.
Mereka telah merebut apa yang seharusnya menjadi hak mereka sejak dulu : memilih jalan hidup mereka sendiri.
Meski sistem yang ada sekarang menjadikan mereka harus menderita — segala sistem perekonomian, permainan politik, dan desakan budaya –,
tapi mereka memilih untuk menerima konsekuensi dari pilihannya itu.
Mereka memilih untuk bergelut dengan segala ketidak adilan,
mereka memilih untuk ditipu oleh para kapitalis,
mereka memilih untuk diperas segala sumberdayanya
… mereka mungkin bodoh, tapi mereka bisa saja memilih untuk menolak itu semua –dan segala konsekuensinya–,
dan itu menunjukkan bahwa mereka merdeka.

Jika kita hanya mengeluh dalam hidup atas keadaan kita,
atau menyalahkan kapitalis-kapitalis brengsek yang mencekik rakyat jelata,
atau merasa bahwa kita tidak semestinya menderita…
maka entah kita tidak bertanggungjawab atas pilihan kita, atau kita tidak tahu apa yang kita pilih,
..dan itu artinya kita belum merdeka.

Karena merdeka,
bagi saya, adalah apa yang mendorong jiwa ini untuk tidak berhenti berjuang,
dan selalu bersyukur atas kehidupan.

2 komentar

  1. bukankah manusia itu diciptakan dari ‘alaqot ? kholaqol insaana min ‘alaq ” yang menciptakan manusia dari ketergantungan. (orang sering menterjemahkan ini dari segumpal darah, namun dalam kamus ‘alaq berarti juga bergantung atau terikat) Ayat ini berma’na tidak ada manusia yang bebas, dia akan selalu tergantung dan hanya ada dua gantungan yaitu Allah dan thogut. “fuzur awu taqwa”.Lepas dari satu gantungan pasti menggantung ke yang lainnya. adakah kemerdekaan ?
    ok,salam


  2. Hahaha, lagi2 saya tertohok…

    Hehehe, pencerahan lagi nih😀



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: