h1

seni mencinta (Trilogi Cinta #2)

Oktober 15, 2008

The Art of Loving, bukan buku mesum tentang seni bercinta (cuman negasin aja buat anda-anda yang mikirnya ngga jauh dari ke-ranjang..hohoho), tapi muntahan pemikiran brilian dari seorang pemikir abad ini, Erich Fromm. Dia bercerita gimana “mencintai diri sendiri” begitu terkait dengan “mencintai orang lain”, dan justru jauh berseberangan dengan selfishness.
Di sudut waktu yang lain, Scott Peck di bukunya “The Road Less Travelled” mencoba menjelaskan apa itu cinta — yang mana menurutnya sangat susah sehingga yang bisa ia lakukan hanya menjelaskan apa yang BUKAN cinta. Dari sana, ia bisa bilang kalau perasaan yang menyebabkan kita ngga bisa berpikir logis, atau kepasifan dan kontraproduktif, atau sadomasochisme sosial, atau posesivitas, atau apapun yang meniadakan/menghambat jiwa manusia untuk berkembang menjadi lebih baik — entah itu bagi yang mencintai atau dicintai, bukanlah cinta. In other words, cinta merupakan upaya aktif manusia untuk membantu yang dicintainya berkembang dalam hidup menjadi lebih baik.
——-
Wuss..wusss….balik lagi, balik lagi. Fromm bilang, mencintai diri sendiri tidak senegatif yang banyak orang anggap, karena ia justru berbeda jauh dengan keegoisan. Mencintai diri sendiri adalah juga menghargai diri, beserta semua kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya, utuh sebagai manusia. Dia, yang mencintai diri sendiri, tidak mempermasalahkan jika ia jelek, atau bodoh, atau miskin –atau apapun label-label yang disediakan oleh tata nilai sosial kita –, tapi ia menghargai bahwa ia adalah manusia, sama dengan pengusaha terkaya atau fotomodel tercantik di seluruh dunia.
Mencintai diri sendiri akan mengarah ke kelapangan diri, dan bukan kesempitan. Mencintai diri mengarah ke pengakuan atas kesamaan hak dasar setiap manusia dan kemampuannya untuk menjadi lebih baik. Mencintai diri sendiri, berarti juga mencintai orang lain – karena mereka juga manusia, sama dengan kita – dan berhak untuk hidup dan berkembang. Jika kita menghargai diri kita sepenuhnya, kita akan mengakui bahwa di dalam diri kita pasti ada keburukan — iri, sombong, prasangka, kebencian, yang melekat di dalam setiap manusia …dan karenanya segala kejahatan tidak boleh meniadakan eksistensi diri pelakunya sebagai manusia. Get the point ? Bahkan orang terjahat sekalipun adalah manusia biasa.

——–
Lalu kalau begitu, apa itu selfishness ? Dia juga khan, bentuk kecintaan terhadap diri kita ? Terus apa masalahnya ? Kenapa selfish malah jadi berlawanan dengan self-love ? Coba lihat deh runutan ini…
Selfishness melihat diri sebagai “pusat” dengan meniadakan eksistensi orang lain. Coba tanya lagi apa yang membuat kita selfish :
saya berbeda — Kenapa kamu bisa berbeda, padahal kita semua sama-sama manusia ?
Saya berbeda karena saya mempunyai apa yang orang lain tidak ; keunggulan, keunikan..
Tapi jika kamu mencintai diri kamu karena kamu berbeda, atau unggul, atau unik, lalu apakah kamu akan mencintai diri kamu karena kamu manusia ? Apakah itu berarti bahwa jika di satu waktu kamu menyadari bahwa diri kamu tidak lagi unggul atau unik, kamu akan membenci dirimu ? Apakah kamu akan menerima keburukan kamu ? atau apakah kamu justru berusaha meniadakannya ?

Pertanyaan seperti itu yang mengganggu para psikolog untuk mengatakan bahwa selfishness, justru adalah bentuk ketiadaan cinta atas diri sendiri..ketika manusia tidak bisa mencintai dirinya sepenuhnya, ia akan berusaha mengkompensasi hal itu dgn mencintai sebagian dari dirinya yang ia suka — dan meniadakan bagian darinya yang lain.

Lalu bagaimana bisa manusia tidak memiliki cinta atas dirinya ?

Pemikiran kakek Freud dan pemikir-pemikir di belakangnya mencoba menjelaskan dengan mengambil satu premis, bahwa seperti apa seseorang saat ini berhubungan dengan bagaimana lingkungan membentuknya  di masa kecil.. karena manusia terlahir bagai sebuah kertas kosong, tabula rasa.

One comment

  1. anggaaaaaa… keren banget dehh..🙂



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: