h1

Tabula rasa (Trilogi Cinta #3)

Oktober 15, 2008

karena manusia terlahir bagai sebuah kertas kosong, tabula rasa”

Lalu mengapa ada orang yang bisa menjadi egois dan sombong ?

Para psikolog Freudian, katanya, berusaha menjawab itu dengan mengaitkan bagaimana diri kita sekarang dengan apa yang terjadi di masa kecil kita. Katanya juga, ada periode perkembangan dimana kepribadian anak dibentuk oleh lingkungannya. Anak tidak memiliki gambaran penuh atas dirinya sendiri, dan karena itu mempersepsi dirinya dari gambaran yang diberikan lingkungan kepadanya. Ia mencerap pandangan orangtuanya tentang dirinya, dan menjadikan itu identitas dirinya ; juga pandangan lingkungan terdekatnya, kakak-adik, saudara, keluarga besar..di usia remaja, ia mulai membentuk dirinya dari lingkungan yang lebih luas ; teman, sekolah, tetangga. Ini, katanya lagi, disebut periode pencarian jati diri. Meski setelah melewati masa-masa ini, idealnya ia sudah memiliki gambaran penuh atas dirinya, tidak jarang hingga usia 25 tahun atau lebih, gambaran itu belum sepenuhnya terbentuk. Dalam kasus ekstrim, beberapa bentuk neurosis bisa terjadi.
——-
Okay, sekarang bayangin lagi, apa jadinya jika anak selalu dikatai bodoh atau jelek sejak kecil ? Ya, dia akan mencerap itu dan menjadikan itu bagian dari identitasnya..demikian juga jika yang terlontar di keluarga adalah kebencian, atau jika orangtuanya selalu mengeluh bahwa hidup mereka susah, atau jika — perhatikan ! — anak tidak pernah diberi kasih sayang yang cukup. Ia tidak akan menyayangi diri sendiri sepenuhnya, dan — karena disayangi adalah kebutuhan alami manusia, ia akan selalu merasa butuh disayang orang lain sepanjang hidupnya !

——-

Jadinya intinya apa sih ? Bagi saya, di usia berkembang, saat seorang anak manusia membangun kepingan-kepingan identitas dirinya dari apa yang ada di sekitarnya…. biarkanlah dia membangun dirinya sebagai manusia yang utuh —

manusia yang mengenal cinta dan kasih sayang, manusia yang memiliki optimisme dan semangat hidup, manusia yang menghargai dirinya sepenuhnya sehingga ia bisa mencintai orang lain dengan tulus pula,

manusia yang memegang nilai-nilai yang bisa membantunya berkembang menjadi lebih baik, bukan nilai yang memberikan pembenaran atas kebenciannya pada kehidupan..

Berat memang, menjejali anak melalui berbagai teori perkembangan anak.  Cara mudahnya ? ajarkan kepada mereka melalui apa yang kita miliki…kasih sayang yang tulus, nilai hidup yang juga kita pegang — tidak hanya kita hafal…

karena apa ?

karena kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki…” setidaknya itu yang saya yakini.

2 komentar

  1. Weh, keknya saya mulai tau kenapa kadang2 saya jadi neurosis, wahahaha…

    Angger…menginspirasi… Hehe thanx…


  2. rakhmi ramdhani also likes this🙂



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: