h1

tentang memberi (trilogi Cinta #1)

Oktober 15, 2008

Kamu tidak bisa memberi apa yang tidak kamu miliki…

Walau kadang ada beberapa perkecualian — yang lebih banyak berkaitan dgn masalah definisi dan konteks –, tetapi saya masih meyakini bahwa premis di atas berkaitan dgn aspek yg sangat luas dalam hidup ini. Tidak hanya tentang materi, tetapi juga tentang ilmu, kebijaksanaan, disiplin, dan kasih sayang.

Kamu tidak bisa memberikan kepada saya satu barang, ambil contoh : pakaian, atau uang di dompet, kecuali jika barang itu milikmu, atau kamu memiliki kuasa/tanggungjawab atasnya. Yup, begitu juga dengan hal-hal immateri lainnya. Kamu ngga bisa mengajarkan, sebut saja, geografi, jika kamu sendiri ngga punya ilmu tentang itu. Masih logis? Coba kita perluas lagi..

Kamu ngga bisa mengajarkan kepada murid kamu, misalnya, kedisiplinan, atau tanggungjawab, atau konsistensi, jika kamu sendiri ngga punya disiplin, atau rasa tanggungjawab, atau konsistensi dalam hidup. You can give them the theory, of course, but nothing more..

Ironis loh, betapa banyak guru atau orangtua yang berusaha setengah mati mengajarkan anaknya kedisiplinan, tapi dirinya sendiri masih jauh dari itu..
Sejauh ini, masih cukup logis?

Sekarang coba lihat yang satu ini..
Bagaimana bisa kita memberikan kasih sayang kepada (baca : menyayangi) orang lain, jika kita tidak memiliki kasih sayang itu..

Oke,oke, sekarang mulai rancu nih..

Soalnya, mungkin kamu bakal nanya, bagaimana bisa orang ngga punya kasih sayang ? Bukankah kasih sayang adalah naluri yang pasti dimiliki oleh manusia — atau juga setiap makhluk hidup tingkat tinggi lainnya ?

Tapi coba perhatikan berapa banyak orang yang seolah ngga pernah berhenti mencari kasih sayang dan perhatian dari orang lain, as if dirinya ngga pernah merasa cukup akan itu..and then, in contrast, berapa banyak pula orang yang memiliki self-esteem yang tinggi, sehingga underestimasi semua orang atas dirinya ngga pernah bisa menggoyahkan dirinya untuk mencintai dan menghargai dirinya sendiri. Masih ngikutin ?

Untuk itu, biar Herr Fromm dan Mr. Peck bicara di trilogi Cinta yang kedua (halah…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: